- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
PENGALAMAN PENDAKIAN CIKURAY
Februari 2017 silam. Kami siap dengan segala barang bawaan kami untuk
bertahan hidup di atas gunung. Yaa gak bertahan hidup juga sih, kan gak lama-lama di atas sana. Empat keril besar dan satu backpack cukup untuk mengemas logistik dan
peralatan, yang akan dibawa oleh tiga orang laki-laki perkasa dan dua gadis
manis. Kami berlima berangkat dari kosan anak rantau Pekanbaru, Radio Dalam,
dengan taxi online andalan
menuju terminal lebak bulus. Sesampainya di terminal, bus tujuan Garut siap
kami tumpangi hingga kurang lebih 6 jam untuk sampai di Kota Garut. Setibanya
di Garut, suhu dingin mulai merambah ke dalam tubuh. Tarik napas panjang, buang
perlahan. Hal ini membuat tubuh terbiasa dengan suhu yang ada.
Sambil menunggu waktu malam habis, kami berbaring di depan minimarket yang masih dalam kondisi tutup.
Menjelang pagi hari, kami berangkat menuju basecamp dengan menyewa angkot. Sarapan,
pemanasan, menyusun strategi, menyiapkan mental, dan tak lupa berdoa dengan
tujuan kembali ke rumah dengan selamat sudah kami lakukan sebelum memulai
pendakian.
Napas awal masih
belum berirama indah. Kami melakukan pendakian santai dengan berhenti setiap
lelah dan lapar melanda. Perjalanan sekitar 7 jam. Setibanya di post puncak
bayangan, abangku, Ilham mendirikan tenda muatan 4 orang yang disediakan untuk
5 orang.
Kami menggelar satu matras tepat di depan pintu tenda. Tempat untuk kami
memasak air untuk minum hangat, masak nasi, dan masak lauk. Aku dan gadis satunya,
Ferlly menunggu di dalam tenda. Maklum belum tahan dingin dan mengantuk. Hanya
memperhatikan abang-abang mondar-mandir depan tenda merapikan semuanya. Aku
hanya heran dengan satu hal. Siapa wanita yang berdiri di sebelah pohon di
ssamping tenda itu? Seperti sedang menunggu semuanya selesai dan memperhatikan
semua yang sedang kami lakukan. Apa aku hanya berkhayal, ya? Ferlly yang sedang
meringkuk di pangkuanku sambil agak tertidur tiba-tiba ngelindur “itu siapa sih? Kak Widy kok
gak masuk (ke tenda) aja?” tanya nya. Widy adalah sepupuku yang awalnya aku
ajak untuk ikut pendakian ini, namun ia berhalangan ikut. Kenyang sudah perut
lapar tadi. Ferlly baru teringat bahwa kita ini berangkat berlima tanpa Kak
Widy.
Semakin malam,
dingin semakin menusuk. Kebetulan agak gerimis, jadi kami putuskan untuk
beristirahat malam sejenak di dalam tenda. Lima orang di dalam tenda muatan
empat orang cukup membuat tubuh kami menjadi hangat. Di tengah tidur lelap
kami, bang Ilham berganti posisi hadap ke arah sebaliknya. Awalnya menghadap ke
atas, tiba-tiba merasa seperti ada yang tidur di sebelah kanannya. Padahal ia
tidur paling kanan, dekat pintu tenda. Kemuadian ia berbalik menghadap ke kiri.
Teringat bahwa tepat di depan pintu tenda tersisa matras yang masih tergelar
usai dipakai sore tadi. Dipikir-pikir, kita sperti menyediakan tempat
bagi”nya”. Tubuh itu jelas sekali terasa berdempet, katanya.
Kami menyetel alarm
pukul 5 pagi, bersiap untuk memuncak. Lagi-lagi ia melihat jelas dekat pohon
yang berbeda, tubuh besar memandangi kami. Kami hanya permisi dan melanjutkan
perjalanan memuncak kami. Bersyukur kepada Sang Pencipta, langit pagi itu
sangat cerah setelah hujan dimalam hari. Kami diberi kesempatan menikmati
matahari terbit di ufuk timur, melihat batas laut, dan gunung lain di seberang
sana. Luar biasa semesta! Kenikmatan yang hakiki ini tidak kami biarkan berlalu
begitu saja. Sebisa mungkin yang dinikmati, diabadikan juga. Setelah puas
memandangi indahnya semesta, kami turun kembali ke tenda dan bersiap untuk kembai
ke rumah awal tempat kami tinggal.
Tenda sudah, sampah
bersih, semua beres, kami berpamit untuk pulang. Tak lupa kami berdoa. Meski
masih berasa bahwa “dia” masih memandangi kami di pohon itu, aku hanya bisa
senyum dan pamitan. Tak ku ambil pusing, “dia” baik dan tak mengganggu. hanya
ingin menjaga kami. Terima kasih, ya, "kamu"!
Jakarta, 1 Mei 2018
repost Jakarta, 10 November 2019
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar